Halaman

    Social Items

Visit Namina Blog
Ahli-ahli pengobatan tradisionat, apakah mereka ¡tu disebut ‘dukun’, kasepuhan’, ‘kamisepuh’ atau sesepuh ibarat di Jawa, atau ‘mariang’ ibarat di Kalimantan, atau ‘dukuen’ ibarat di beberapa tempat di Sumatera, atau apa saja nama lainnya seharusnya tidak dianggap penipu.

Di Indonesia, ahli-ahli ini biasanya berlatih usang dengan andal yang lebih bau tanah sebelum mereka mulai berpraktek dan mulai diterima oleh masyarakat di tempat tersebut. Ahli-ahli pengobatan tradisional biasanya merupakan warga yang sangat dihormati dalam masyarakat mereka. Sesungguhnya lah mereka mungkin ialah orang bau tanah yang paling dihormati dalam suatu desa. Pengetahuan mereka berbeda dengan pengetahuan seorang dokter modern, tetapi hal ini sama sekali tidak berarti bahwa pengetahuannya kurang penting. Ahli-ahli pengobatan tradisional seharusnya dihormati sebagai ‘dukun-dukun’ tradisional.

Sebaiknya petugas medís dan kader sehat berusaha bekerja sama dengan ‘dukun-dukun’ tradisional ini. Bekerja sama sangat penting. Keadaan di Jawa sanggup dilihat sebagai suatu teladan timbal balik. Di Jawa khususnya, bukanlah suatu hal yang absurd bila orang yang mempunyai pendidikan modern selama bertahun-tahun, bahkan juga dokter-dokter, pergi ke dukun untuk jenis-jenis penyakit tertentu. Juga biasa bila seorang “dukun” pergi ke dokter jikalau ia sakit parah. Ahli-ahli pengobatan tradisional dan modern di Jawa saling menghormati; setiap andal mempunyai tempat kekuasaannya sendiri, dan kedua-duanya penting dan saling mengisi.

Namun Pengobatan Tradisional kadang kala tidak cocok untuk mengobati penyakit kritis atau ganas. Banyak penyakit yang parah sanggup diobati atau dirawat lebih baik dengan pengobatan modern daripada dengan pengobatan tradisional. Hal ini benar terutama untuk penyakit-penyakit yang begitu ganas sehingga membahayakan jiwa penderita. untuk penyakit-penyakit ini, jangan membuang waktu dengan mencoba mengobatinya dengan pengobatan tradisional lebih dahulu. Sebaiknya eksklusif dibawa ke kader sehat, mantri, Puskesmas, dokter atau rumah sakit.

Golongan penyakit-penyakit berbahaya ini meliputi: TBC, tetanus, radang paru-paru (pneumonia), tifus, radang usus buntu, muntaber, radang selaput otak (meningitis), demam berdarah, penyakit anjing gila (rabies), malaria, penyakit-penyakit yang disebabkan lantaran kekerabatan kelamin, demam sehabis kelahiran anak dan sebagainya.

Untuk penyakit penyakit semacam ¡ni, waktu sangatlah penting. Begitu pentingnya sehingga waktu sanggup memilih hidup atau matinya penderita. Kalau ada seseorang yang mungkin menderita salah satu dan penyakit-penyakit tersebut, Iebih baik menghubungi petugas kesehatan terdekat. Janganlah membuang waktu yang berharga dengan mencoba pengobatan tradisional dahulu dan janganlah ragu-ragu; jikalau pengobatan tradisional tidak manjur, mungkin obat tradisional sudah terlambat untuk sanggup menyembuhkannya.

Ada suatu kecenderungan untuk menyangka bahwa gejala-gejala absurd lubang-lubang pada badan atau benjolan-benjolan ibarat tumor di perut, misalnya, disebabkan oleh yang disebut “guna-guna”. Kader sehat sanggup menjelaskannya kepada masyarakat bahwa kita tidak sanggup mengetahui dengan niscaya bahwa penyebabnya ialah guna-guna atau jikalau obat-obatan bukan modern belum dicoba. Pada umumnya masyarakat di tempat pedesaan pun sanggup mengetahui bahwa penyakit yang sanggup disembuhkan dengan obat-obatan modern bukan yang disebabkan “guna-guna”.

Cerita berikut ini menggambarkan apa yang mungkin terjadi. Di suatu desa di Jawa, seorang anak muda jatuh sakit dengan gejala-gejala aneh. Karena keluarga sipenderita ini sedang memperebutkan hak tanah dengan tetangga, mereka mulai curiga bahwa ia telah menjadi korban “guna-guna”, dan hasilnya mereka minta pemberian seorang “dukun”. “Dukun” ini berusaha tetapi kurang berhasil. Akhirnya, dengan frustasi si pendenta itu dibawa ke rumah sakit. Di rumah sakit dilakukan perjuangan penyembuhan dan untung sekali berhasil. Orang-orang di desa itu lalu menyampaikan bahwa cowok itu temyata tldak dipengaruhi “guna-guna” ibarat dicuriigai dulu. Kalau ia diguna-gunai, dokter di rumah sakit niscaya tidak akan sanggup menyembuhkannya, demikian pendapat mereka. Dalam masalah-masalah di mana orang meragukan adanya yang disebut “guna-guna’, sebaiknya penderita dibawa kepada petugas medis terlebih dahulu. Seandainya kurang berhasil disembuhkan dengan obat-obat modern masih sempat untuk minta pemberian seorang dukun.

Keterbatasan Pengobatan Tradisional

Cozy Corner Herbal
Ahli-ahli pengobatan tradisionat, apakah mereka ¡tu disebut ‘dukun’, kasepuhan’, ‘kamisepuh’ atau sesepuh ibarat di Jawa, atau ‘mariang’ ibarat di Kalimantan, atau ‘dukuen’ ibarat di beberapa tempat di Sumatera, atau apa saja nama lainnya seharusnya tidak dianggap penipu.

Di Indonesia, ahli-ahli ini biasanya berlatih usang dengan andal yang lebih bau tanah sebelum mereka mulai berpraktek dan mulai diterima oleh masyarakat di tempat tersebut. Ahli-ahli pengobatan tradisional biasanya merupakan warga yang sangat dihormati dalam masyarakat mereka. Sesungguhnya lah mereka mungkin ialah orang bau tanah yang paling dihormati dalam suatu desa. Pengetahuan mereka berbeda dengan pengetahuan seorang dokter modern, tetapi hal ini sama sekali tidak berarti bahwa pengetahuannya kurang penting. Ahli-ahli pengobatan tradisional seharusnya dihormati sebagai ‘dukun-dukun’ tradisional.

Sebaiknya petugas medís dan kader sehat berusaha bekerja sama dengan ‘dukun-dukun’ tradisional ini. Bekerja sama sangat penting. Keadaan di Jawa sanggup dilihat sebagai suatu teladan timbal balik. Di Jawa khususnya, bukanlah suatu hal yang absurd bila orang yang mempunyai pendidikan modern selama bertahun-tahun, bahkan juga dokter-dokter, pergi ke dukun untuk jenis-jenis penyakit tertentu. Juga biasa bila seorang “dukun” pergi ke dokter jikalau ia sakit parah. Ahli-ahli pengobatan tradisional dan modern di Jawa saling menghormati; setiap andal mempunyai tempat kekuasaannya sendiri, dan kedua-duanya penting dan saling mengisi.

Namun Pengobatan Tradisional kadang kala tidak cocok untuk mengobati penyakit kritis atau ganas. Banyak penyakit yang parah sanggup diobati atau dirawat lebih baik dengan pengobatan modern daripada dengan pengobatan tradisional. Hal ini benar terutama untuk penyakit-penyakit yang begitu ganas sehingga membahayakan jiwa penderita. untuk penyakit-penyakit ini, jangan membuang waktu dengan mencoba mengobatinya dengan pengobatan tradisional lebih dahulu. Sebaiknya eksklusif dibawa ke kader sehat, mantri, Puskesmas, dokter atau rumah sakit.

Golongan penyakit-penyakit berbahaya ini meliputi: TBC, tetanus, radang paru-paru (pneumonia), tifus, radang usus buntu, muntaber, radang selaput otak (meningitis), demam berdarah, penyakit anjing gila (rabies), malaria, penyakit-penyakit yang disebabkan lantaran kekerabatan kelamin, demam sehabis kelahiran anak dan sebagainya.

Untuk penyakit penyakit semacam ¡ni, waktu sangatlah penting. Begitu pentingnya sehingga waktu sanggup memilih hidup atau matinya penderita. Kalau ada seseorang yang mungkin menderita salah satu dan penyakit-penyakit tersebut, Iebih baik menghubungi petugas kesehatan terdekat. Janganlah membuang waktu yang berharga dengan mencoba pengobatan tradisional dahulu dan janganlah ragu-ragu; jikalau pengobatan tradisional tidak manjur, mungkin obat tradisional sudah terlambat untuk sanggup menyembuhkannya.

Ada suatu kecenderungan untuk menyangka bahwa gejala-gejala absurd lubang-lubang pada badan atau benjolan-benjolan ibarat tumor di perut, misalnya, disebabkan oleh yang disebut “guna-guna”. Kader sehat sanggup menjelaskannya kepada masyarakat bahwa kita tidak sanggup mengetahui dengan niscaya bahwa penyebabnya ialah guna-guna atau jikalau obat-obatan bukan modern belum dicoba. Pada umumnya masyarakat di tempat pedesaan pun sanggup mengetahui bahwa penyakit yang sanggup disembuhkan dengan obat-obatan modern bukan yang disebabkan “guna-guna”.

Cerita berikut ini menggambarkan apa yang mungkin terjadi. Di suatu desa di Jawa, seorang anak muda jatuh sakit dengan gejala-gejala aneh. Karena keluarga sipenderita ini sedang memperebutkan hak tanah dengan tetangga, mereka mulai curiga bahwa ia telah menjadi korban “guna-guna”, dan hasilnya mereka minta pemberian seorang “dukun”. “Dukun” ini berusaha tetapi kurang berhasil. Akhirnya, dengan frustasi si pendenta itu dibawa ke rumah sakit. Di rumah sakit dilakukan perjuangan penyembuhan dan untung sekali berhasil. Orang-orang di desa itu lalu menyampaikan bahwa cowok itu temyata tldak dipengaruhi “guna-guna” ibarat dicuriigai dulu. Kalau ia diguna-gunai, dokter di rumah sakit niscaya tidak akan sanggup menyembuhkannya, demikian pendapat mereka. Dalam masalah-masalah di mana orang meragukan adanya yang disebut “guna-guna’, sebaiknya penderita dibawa kepada petugas medis terlebih dahulu. Seandainya kurang berhasil disembuhkan dengan obat-obat modern masih sempat untuk minta pemberian seorang dukun.

No comments